Tentang Kami

CULTURA DI VITA · THE STORY

Hidup lebih dahulu.
Nama datang kemudian.

Cultura di Vita lahir bukan dari sebuah meja rapat, melainkan dari perjumpaan dengan kehidupan yang nyata: banjir, kemiskinan, orang muda, seni, iman, kebudayaan, dan perubahan zaman.

01 · FEATURE ESSAY

Ketika Sebuah Buku Jatuh,
Sebuah Gerakan Mendapat Nama

Yustinus Sulistiadi, Evangelium Vitae, panggung Caligula, banjir Jakarta, Yohanes Paulus II, dan perjalanan panjang Cultura di Vita membaca tanda-tanda zaman.

Baca kisah lengkap →
“Life itu multidimensional. Ada banyak dimensi, banyak segi dari kehidupan itu.”
SPIRIT

Culture of Life

Kehidupan dipahami dalam seluruh dimensinya: badan, psikologis, ekonomi, moral, sosial, kebudayaan, dan iman.

FIGUR

Yustinus Sulistiadi

Imam, penggerak, dan pembaca tanda-tanda zaman yang mempertemukan Gereja dengan seni, kebangsaan, dialog, media, dan teknologi.

METODE

Membaca Zaman

Realitas konkret datang lebih dahulu. Refleksi menyusul. Cultura di Vita bergerak dengan membaca apa yang sedang terjadi pada manusia.

GERAKAN

Bukan Monumen

Medium terus berubah—dari pelayanan sosial, panggung dan pameran hingga ruang digital dan AI—tetapi pertanyaannya tetap: bagaimana membuat hidup tetap hidup?

LIVE YOUR LIFE LIVELY

Membuat kehidupan
tetap bergerak.