CULTURA DI VITA | YUSTINUS SULISTIADIFEATURE ESSAY • SEPTEMBER 2026
CULTURA DI VITA • FEATURE ESSAY

Ketika Sebuah Buku Jatuh, Sebuah Gerakan Mendapat Nama

Yustinus Sulistiadi, Evangelium Vitae, panggung Caligula, banjir Jakarta, Yohanes Paulus II, dan perjalanan panjang Cultura di Vita membaca tanda-tanda zaman.

Esai feature berdasarkan wawancara panjang RD Yustinus Sulistiadi, Pr., sejarah lisan, arsip media, dan dokumentasi Gereja.

CULTURA DI VITA • FEATURE ESSAY

Ketika Sebuah Buku Jatuh,
Sebuah Gerakan Mendapat Nama

Yustinus Sulistiadi, Evangelium Vitae, panggung Caligula, banjir Jakarta, Yohanes Paulus II, dan perjalanan panjang Cultura di Vita membaca tanda-tanda zaman.

Di Cikanyere, dalam sebuah retret pribadi, Yustinus Sulistiadi sedang membaca ketika kantuk datang.

Ia membawa beberapa buku. Salah satunya ensiklik Santo Yohanes Paulus II, Evangelium Vitae. Tidak ada rapat pendirian organisasi. Tidak ada papan nama. Tidak ada desain logo. Bahkan kelompok yang kelak menjadi Cultura di Vita belum tahu benar hendak disebut apa.

Sulis membaca sambil terkantuk-kantuk. Lalu buku itu jatuh. Ia membungkuk, memungutnya, dan buku itu terbuka pada sebuah bagian yang berbicara tentang culture of life—dalam teks Italia, cultura della vita. Frase itulah yang tiba-tiba memberi bahasa kepada sesuatu yang sebenarnya sudah lebih dulu mereka kerjakan.

Cultura di Vita. Nama itu datang belakangan. Gerakannya sudah lahir terlebih dahulu.

Sebelum Nama Itu Ada: Jakarta Tenggelam

Sulis pulang ke Indonesia pada 2005 dan mendapat tugas di Paroki St. Ignatius, Jalan Malang, Jakarta. Dua tahun kemudian, banjir besar 2007 datang. Dalam cara pandangnya, banjir bukan hanya bencana alam. Ia adalah “tanda zaman”.

Bersama orang muda, Dewan Paroki Harian, dan tokoh umat, Sulis bergerak. Mereka mencari pompa, berjejaring dengan unsur penanggulangan bencana, kelompok kemanusiaan, tenaga kesehatan, lalu melayani warga miskin di kantong-kantong kumuh Jakarta.

Dari sini lahir pola yang menetap dalam Cultura di Vita: refleksi dimulai dari kenyataan konkret. Bukan dari slogan. Banjir lebih dahulu datang; pertanyaan teologis menyusul.

“Belum ada istilah Cultura di Vita, tapi esensi pergerakan itu adalah menyelamatkan hidup dan memperjuangkan budaya yang sehat.”

Bukan Organisasi Pro-Life dalam Arti Sempit

Hak hidup adalah dasar dari semua hak. Tetapi membela hidup tidak berhenti pada awal dan akhir kehidupan biologis. Ia merembes ke kesehatan, kemiskinan, pendidikan, kebudayaan, relasi sosial, moralitas, iman, dan martabat.

Sulis menyebut kehidupan psikologis, badan, ekonomi, moral, dan iman. “Life itu multidimensional.” Karena itu Cultura di Vita sejak awal juga mencari partner di luar batas paroki dan Gereja.

Panggung Caligula: Akar yang Lebih Tua

Jika 2007 adalah awal gerakan, akar batinnya barangkali lebih tua. Pada masa frater, Sulis pernah menjadi pemeran utama dalam produksi teater yang ia ingat sebagai Caligula di Taman Ismail Marzuki, disutradarai Agustinus Adi Kurdi.

Pengalaman itu kelak berulang dalam bentuk berbeda: wayang orang, musik, pameran, film, buku, dan media digital. Kebudayaan menjadi cara untuk memasuki manusia sebelum memberinya nasihat.

Yohanes Paulus II: Membaca Sejarah

Di balik nama Cultura di Vita ada satu figur yang terus muncul: Karol Wojtyła, Santo Yohanes Paulus II. Sulis tertarik bukan hanya pada ajarannya, tetapi pada cara paus itu membaca sejarah. Gereja tidak dapat memutar sejarah mundur. Ia harus membaca tanda-tanda zaman dan mencari jalan baru.

Barque of Peter, perahu Petrus, tetap membawa Kristus yang sama, tetapi laut yang dilayari berubah. Di titik ini Cultura di Vita menjadi lebih dari kegiatan sosial. Ia menjadi metode membaca zaman.

Dari Pameran ke Bangsa

Pameran Yohanes Paulus II di Pejompongan, produksi audiovisual, musik, kunjungan misionaris, dialog lintas iman, Pancasila, demokrasi dan kebinekaan menunjukkan pola yang sama. Cultura di Vita bekerja dengan mempertemukan manusia, kebudayaan, Gereja, masyarakat sipil, dan jaringan yang berbeda.

Jika hidup itu multidimensional, bangsa juga merupakan salah satu dimensi kehidupan. Budaya kehidupan harus menyentuh cara warga berbeda agama hidup bersama, cara politik memperlakukan perbedaan, dan cara masyarakat mengelola identitas.

Tanda Zaman Baru: Gadget, COVID, dan AI

Hari ini kegelisahan Sulis bergerak ke generasi yang dibentuk gadget. Anak muda hidup dalam realitas fisik dan virtual sekaligus. Layar menjadi pendidik tambahan yang hadir hampir dua puluh empat jam.

Namun teknologi tidak hanya dibaca sebagai malapetaka. Internet membuka pengetahuan dan meruntuhkan batas geografis. Pedang itu mempunyai dua sisi.

Lalu datang AI. Sulis membandingkannya dengan tenaga nuklir: daya konstruktifnya luar biasa, daya destruktifnya juga luar biasa. Persoalannya bukan lagi sekadar having atau doing, melainkan being—cara manusia menjadi manusia.

“AI itu seperti nuklir. Daya konstruktifnya luar biasa, tetapi daya destruktifnya juga luar biasa.”

Gerakan yang Berganti Bentuk

Medium Cultura di Vita terus berubah. Pada awalnya ada banjir, sukarelawan, panggung, pameran, seminar, musik, dan ziarah. Kemudian hadir website, video, platform digital, webseries, dan kini refleksi tentang AI.

Tetapi pertanyaannya tetap: tanda zaman apa yang sedang dihadapi manusia, dan kehidupan seperti apa yang harus dibela serta ditumbuhkan di dalamnya?

Buku yang Jatuh Itu

Kisah Cultura di Vita akhirnya kembali ke Cikanyere. Seorang imam mengantuk membaca ensiklik. Buku jatuh. Halaman terbuka. Sebuah frase memberi nama kepada pengalaman yang sudah berlangsung.

Dari Caligula di TIM sampai pameran Yohanes Paulus II. Dari pompa banjir sampai misionaris Italia. Dari wayang sampai Kardinal Ayuso. Dari relikui sampai algoritma.

Sulis terus mengajukan pertanyaan yang sama dengan kosa kata zaman yang berbeda: apa yang sedang terjadi pada manusia, dan bagaimana kita membuat hidup tetap hidup?

Live your life lively.
Bukan hidup yang ramai. Bukan hidup yang serba banyak. Tetapi hidup yang tidak membiarkan dimensinya dipersempit—dan tidak membiarkan kehidupan orang lain diperkecil.

Sumber pilihan: Wawancara RD Yustinus Sulistiadi, Pr., September 2026; Evangelium Vitae; Keuskupan Agung Jakarta; HIDUP Katolik; AsiaNews; Vatikan; Zenit; JPNN.com; UIN Sunan Kalijaga; Vatican News; dokumentasi Media Cultura di Vita dan arsip media Yustinus Sulistiadi.

CULTURA DI VITALIVE YOUR LIFE LIVELY